Sastra Pertunjukan Gus Mus Tenggelam, Gelar Sastra Pelataran Semarang - Majalah Hany

Majalah Hany

Media Pendidikan dan Keluarga

Sastra Pertunjukan Gus Mus Tenggelam, Gelar Sastra Pelataran Semarang

Share This

KH. Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus membacakan karya-karya puisinya di Halaman Balai Kota Semarang yang diselenggarakan Sastra Pelataran Semarang. Sebelum Gus Mus tampil di area panggung, Musikalisasi Puisi Swaranabya dan Pembacaan Puisi Penyair Jakarta Fatin Hamamah turut meramaikan gelar sastra yang mampu mensedot para penonton hingga tempat duduk yang disediakan mengalami kekurangan, Jumat (01/12/2017)

Gus Mus mengatakan bawasanya puisinya itu puisi balsem."

"Puisi tersebut mampu menyembuhkan dan menghilangkan pusing, namun setelahnya akan pusing kembali," lanjut Gus Mus sambil bercanda dan para penontonpun tertawa.

Namun sayang sebagai sebuah pertunjukan sastra kehadiran Swaranabya, Fatin Hamamah, dan Gus Mus sendiri tengelam dalam artian pertunjukan puisi tersebut tidak memiliki greget dan ruhnya tengelam.

Swaranabya dengan ciri khas sang vokal Latree Manohara juga tidak ada ruhnya, semua tengelam. Begitupun juga Fatin Hamamah yang memiliki karakter kuat dalam pembacaan puisi, sajak, maupun cerpen juga ikut tengelam dan terasa tidak ada sesuatu yang dapat dinikmati.

Begitupun juga pembacaan puisi oleh Gus Mus sendiri, ia seperti berjalan sendiri dan karakter pembacaan puisi Gus Mus turut tenggelam, tidak ada ruh yang mampu membangkitkan nuansa keindahan pada karya sastra.

Hal ini tidak terlepas dari tata nilai sastra panggung itu sendiri yakni penggarapan tata panggung yang ditempati dua kursi dan satu meja,  sound system dan lighting tidak digarap dengan baik. Begitulah ungkapan salah seorang penikmati seniman serba bisa yakni Viera dari Semarang.

Akan tetapi sebagai sebuah tontonan acara sastra pelataran yang menghadirkan Gus Mus mampu memecahkan rekor jumlah penonton dari edisi Sastra Pelataran dari edisi ke edisi. Hal ini tidak terlepas kharisma Gus Mus itu sendiri. Sehingga yang hadir tidak hanya para penikmat sastra tapi juga kalangan seniman, santri, maupun masyarakat umum.

Begitupun juga puisi Gus Mus yang dibacakan memang puisi lama, namun memiliki nilai kritik sosial yang tinggi sehingga sangat relevan sekali di era saat ini. 

No comments:

Post a Comment


Pages