Masalikul illat Keluar Dari Kamarnya
Teori-teori Usul Fiqh seperti am, khos, mutlaq, amar dan sejenisnya berkaitan dengan dilalatul alfadz, artinya digunakan untuk memahami teks yang berupa tulisan(nash). Aspek ini termasuk yang membedakan dengan qowaid fiqhiyyah. Begitu juga Masalikul illat (cara yang ditempuh untuk mengetahui alasan sebuah hukum), namun dalam suatu kesempatan Masalikul illat ini bisa berperan lain yaitu bisa digunakan memahami teks yang bergerak yaitu peristiwa atau kejadian.
Dalam hal ini (memahami peristiwa), tidak semua masalikul illat bisa digunakan tetapi menggunakan Assabru Wattaqsim atau sejenisnya (tanqih atau tahqiq lil manath). Assabru Wattaqsim secara sederhana adalah menyeleksi dan mengkaji kriteria-kriteria yang ada pada pelaku peristiwa guna menetapkan (memilih) kriteria yang tepat dijadikan alasan timbulnya sebuah hukum atau konsekuensi peristiwa. Dengan seperti ini kita tidak mudah dikelabuhi dengan judul berita atau berita yang tidak lengkap, apalagi ada tanda-tanda mengajak pembaca berita agar berpandangan buruk terhadap kelompok tertentu.
Misalnya, ada seorang pencuri yang berhasil melakukan aksinya kemudian jarak dua hari kebetulan dia solat jumat memakai kopiah hitam serta celana jean, sewaktu pulang ditangkap polisi. Kemudia diberitakan bahwa polisi menangkap orang yang pulang sholat jumat. Hal ini benar dan sesuai realita, tetapi apakah penangkapan tersebut karena faktor sholat jumat, atau karena dianggap tidak sopan karena sholat jumat memakai celana jean atau karena ada laporan kalau dia mencuri?. Tentunya dengan berita sepotong tadi kita bisa berfikir apakah ada keserasian antara illat yaitu solat jumat, memakai celana jean dengan penangkapan dan kalau kita sudah tahu ada laporan bahwa dia sebelumnya mencuri tentu kita tahu penyebab yang tepat adalah pencurian bukan sholat jumat atau sholat jumat memakai celana jean.
Kita juga akan bertanya, mengapa berita yang disajikan hanya demikian, apakah penyaji berita tidak tahu illat (penyebab) sebenarnya atau tahu tapi sengaja disajikan demikian dengan tujuan mengelabuhi pembaca berita?.
Contoh lain, ada kyai yang alim. Dulu beliau mondok di pesantren Alfulani (sekedar contoh), di sana rajin belajar dan suka ziaroh makam wali. Di samping itu beliau juga istiqomah memakai sarung putih dan merokok. Jika salah memahami penyebab kealiman tentu akan salah dalam mengikuti beliau. Ada yang memahami penyebabnya adalah rokok sehingga dia banyak merokok. Ada juga yang memahami penyebabnya adalah sarung putih sehingga dia hobi memakai sarung putih. Tentunya penyebab yang paling tepat adalah rajin belajar ditunjang ziaroh makam wali. Adapun pesantren itu di urutan setelahnya karena banyak pesantren lain yang mampu mencetak santri-santri yang alim.
Contoh lagi, ada orang mendambakan pemimpin seperti Sayyidina Umar RA. dan memahami bahwa kesuksesan Sayyidina Umar adalah berkat karakter yang tegas maka orang tadi lebih memilih dan menyanjung calon pemimpin yang tegas (versi penggambaran orang tadi). Ada yang memahami bahwa keberhasilannya adalah karena dekat dan sayang terhadap rakyat maka dia akan lebih memilih pemimpin yang dekat dengan rakyat. Padahal di balik itu beliau adalah orang yang taqwanya tinggi, karena taqwa urusan batin maka bisa dilihat dari buah taqwanya atau istilah lainnya madlinnahnya yaitu jujur, amanah dan lainnya. Ada lagi yang melihat kesuksesan Jendral Besar Bapak Soeharto disebabkan karena faktor pangkat jendral, sehingga orang tadi lebih memilih calon pemimpin yang jendral. Meskipun ketika ditelusuri banyak predikat yang melekat pada beliau. Seperti keahlian berpolitik (ini jarang tandingannya), pengusaha besar, karakter kejawaan yang sangat kuat atau jawani bahkan pernah ada istilah beliau merupakan manifestasi raja jawa dan menurut saya inilah faktor terpenting yang jarang terbaca.
Tulisan ini bermaksud biar kita tidak terkena virus suka membenci atau memusuhi yang lain dengan berita abal-abal yang disemprot bau agama.
Dan ternyata teori Usul Fiqih tidak hanya berfungsi ketika kitab kuning dibuka tapi berfungsi juga untuk kitab yang bergerak yaitu sebuah peristiwa atau kejadian, begitu juga teori ilmu yang lain.
Semoga bermanfaat khususnya untuk saya.
Allahu Ta'ala A'lamu bima yaquluna biafwahihim ma laisa fi qulubihim
Teori-teori Usul Fiqh seperti am, khos, mutlaq, amar dan sejenisnya berkaitan dengan dilalatul alfadz, artinya digunakan untuk memahami teks yang berupa tulisan(nash). Aspek ini termasuk yang membedakan dengan qowaid fiqhiyyah. Begitu juga Masalikul illat (cara yang ditempuh untuk mengetahui alasan sebuah hukum), namun dalam suatu kesempatan Masalikul illat ini bisa berperan lain yaitu bisa digunakan memahami teks yang bergerak yaitu peristiwa atau kejadian.
Dalam hal ini (memahami peristiwa), tidak semua masalikul illat bisa digunakan tetapi menggunakan Assabru Wattaqsim atau sejenisnya (tanqih atau tahqiq lil manath). Assabru Wattaqsim secara sederhana adalah menyeleksi dan mengkaji kriteria-kriteria yang ada pada pelaku peristiwa guna menetapkan (memilih) kriteria yang tepat dijadikan alasan timbulnya sebuah hukum atau konsekuensi peristiwa. Dengan seperti ini kita tidak mudah dikelabuhi dengan judul berita atau berita yang tidak lengkap, apalagi ada tanda-tanda mengajak pembaca berita agar berpandangan buruk terhadap kelompok tertentu.
Misalnya, ada seorang pencuri yang berhasil melakukan aksinya kemudian jarak dua hari kebetulan dia solat jumat memakai kopiah hitam serta celana jean, sewaktu pulang ditangkap polisi. Kemudia diberitakan bahwa polisi menangkap orang yang pulang sholat jumat. Hal ini benar dan sesuai realita, tetapi apakah penangkapan tersebut karena faktor sholat jumat, atau karena dianggap tidak sopan karena sholat jumat memakai celana jean atau karena ada laporan kalau dia mencuri?. Tentunya dengan berita sepotong tadi kita bisa berfikir apakah ada keserasian antara illat yaitu solat jumat, memakai celana jean dengan penangkapan dan kalau kita sudah tahu ada laporan bahwa dia sebelumnya mencuri tentu kita tahu penyebab yang tepat adalah pencurian bukan sholat jumat atau sholat jumat memakai celana jean.
Kita juga akan bertanya, mengapa berita yang disajikan hanya demikian, apakah penyaji berita tidak tahu illat (penyebab) sebenarnya atau tahu tapi sengaja disajikan demikian dengan tujuan mengelabuhi pembaca berita?.
Contoh lain, ada kyai yang alim. Dulu beliau mondok di pesantren Alfulani (sekedar contoh), di sana rajin belajar dan suka ziaroh makam wali. Di samping itu beliau juga istiqomah memakai sarung putih dan merokok. Jika salah memahami penyebab kealiman tentu akan salah dalam mengikuti beliau. Ada yang memahami penyebabnya adalah rokok sehingga dia banyak merokok. Ada juga yang memahami penyebabnya adalah sarung putih sehingga dia hobi memakai sarung putih. Tentunya penyebab yang paling tepat adalah rajin belajar ditunjang ziaroh makam wali. Adapun pesantren itu di urutan setelahnya karena banyak pesantren lain yang mampu mencetak santri-santri yang alim.
Contoh lagi, ada orang mendambakan pemimpin seperti Sayyidina Umar RA. dan memahami bahwa kesuksesan Sayyidina Umar adalah berkat karakter yang tegas maka orang tadi lebih memilih dan menyanjung calon pemimpin yang tegas (versi penggambaran orang tadi). Ada yang memahami bahwa keberhasilannya adalah karena dekat dan sayang terhadap rakyat maka dia akan lebih memilih pemimpin yang dekat dengan rakyat. Padahal di balik itu beliau adalah orang yang taqwanya tinggi, karena taqwa urusan batin maka bisa dilihat dari buah taqwanya atau istilah lainnya madlinnahnya yaitu jujur, amanah dan lainnya. Ada lagi yang melihat kesuksesan Jendral Besar Bapak Soeharto disebabkan karena faktor pangkat jendral, sehingga orang tadi lebih memilih calon pemimpin yang jendral. Meskipun ketika ditelusuri banyak predikat yang melekat pada beliau. Seperti keahlian berpolitik (ini jarang tandingannya), pengusaha besar, karakter kejawaan yang sangat kuat atau jawani bahkan pernah ada istilah beliau merupakan manifestasi raja jawa dan menurut saya inilah faktor terpenting yang jarang terbaca.
Tulisan ini bermaksud biar kita tidak terkena virus suka membenci atau memusuhi yang lain dengan berita abal-abal yang disemprot bau agama.
Dan ternyata teori Usul Fiqih tidak hanya berfungsi ketika kitab kuning dibuka tapi berfungsi juga untuk kitab yang bergerak yaitu sebuah peristiwa atau kejadian, begitu juga teori ilmu yang lain.
Semoga bermanfaat khususnya untuk saya.
Allahu Ta'ala A'lamu bima yaquluna biafwahihim ma laisa fi qulubihim

No comments:
Post a Comment