![]() |
Tahu cara menghancurkan pusat peradaban yang masih alami khas nusantara? Mudah, hancurkan desa. Lewat mana? Lewat program dana desa. Ya, dengan dana desa maka para kepala desa dan masyarakat yang selama ini melakukan aktivitasnya sesuai dengan mentalitas kebudayaan yang unik dan penuh nilai-nilai kenusantaraan, guyub, religus dan komunal, dihancurkan lewat tradisi yang berbeda dengan alam berpikir masyarakat desa. Kepala dan para perangkat desa boleh menerima dana miliaran dengan syarat manajemen, keuangan dan akuntansi yang sangat berbeda logikanya, sangat materialistik, mekanistik, berorientasi proyek, transaksional, dan sarat standar dan pedoman yang tidak pernah ada dalam dunia mereka, bahkan dalam dunia khayalan mereka.
Dan sekarang menterinya seenaknya mengatakan bahwa kepala desa ndak bisa ngelola dana miliaran, maka mereka wajar masuk penjara. Emang menteri itu tahu bahwa aset desa itu lebih besar dari kucuran dana desa? Yang bener aja? Apalagi kalau, ini saya tegaskan "kalau", kemudian aset harus disetor dalam bentuk laporan ke kementerian... Weladalah... Data data data, informasi informasi informasi, siapa berkepentingan atas itu? Aset Desa? mmmm
Begini lo, dana desa itu belum tentu lebih sehat dan barakah dari aset desa, karena hanya duit banyak ribanya kalau itu dari pinjaman luar negeri. Belum lagi kasian kalau dana desa itu juga dari pajak yang makin mencekik. Kalau begitu, apa memang desa yang tidak profesional?
Pertanyaan balik adalah, apa mereka yang di kementerian ndak ngerti bahwa desa memiliki kearifan dan kebahagiaan, religiusitas yang lebih "cerdas". Bahkan, mereka lebih pro lingkungan dan pro sosial dalam menghayati kehidupannya. Daripada kantor kementerian, coba saja lihat, berada di ibukota. Lingkungan di sekitarnya saja sudah mengidap penyakit polusi lingkungan maupun polusi koruptor triliunan akibat para makelar dan para cukong-cukong, pastinya racun yang lebih jahat dari desa... heee... (Aji Dedi Mulawarman)

No comments:
Post a Comment