Memahami Potensi dan Tingkah Laku Anak Usia Dini - Majalah Hany

Majalah Hany

Media Pendidikan dan Keluarga

Memahami Potensi dan Tingkah Laku Anak Usia Dini

Share This

Saat ini kita sedang mengalami krisis akhlak, meski dengan beragam ilmu pengetahuan yang didapatkan manusia tidak membuatnya menjadi rendah hati dan memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ajaran rasulullah sebagaimana rasulullah adalah pribadi yang menjadi tauladan umatnya. Sehingga perilaku koruptis, tidak bermoral hingga beragam kejahatan melingkupi kehidupan manusia. Maka hal ini perlu menjadi perhatian yang serius, bawasanya manusia tidak hanya diberikan ilmu pengetahuan namun juga pendidikan akhlak, sehingga terjadi keseimbangan.

Pendidikan keluarga sebagai suatu pranata sosial, juga sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan (eksistensi) manusia. Oleh karena itu, keluarga Islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah dan perbedaannya adalah terletak pada kadar ketaqwaan masing-masing manusia, yang diberikan ilmu pengetahuan dan pendidikan akhlak. Sehingga peran penting manusia untuk memakmurkan bumi ini sesuai pandangan awal manusia diciptkan.
Pendidikan pada keluarga Islam tidak sekadar transfer ilmu pengetahuan maupun transfer or training, akan tetapi merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan. Yakni suatu sistem hubungan tiga dimensi antara manusia, alam dan Allah Swt, yang kesemuanya terpaut dengan sang maha pencipta.

Jadi dalam pendidikan keluarga Islam merupakan suatu kegiatan yang mengarahkan perkembangan seseorang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Maka pendidikan keluarga Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia kearah kebahagiaan dunia dan akhirat melalui ilmu dan akhlak. Oleh karena pendidikan keluarga Islam untuk membawa kearah kebahagiaan dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah nilai-nilai Islam tentang manusia yakni hakaikat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota masyarakat.

Jadi dapat dikatakan bawasanya konsepsi pendidikan keluarga Islam tidak hanya melihat keluarga sebagai upaya pencerdasan semata, melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakikat eksistensinya.

Tantangan untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman pada diri manusia, karena manusia bukan hanya sekadar obyek yang diam. Tapi obyek dan sekaligus subyek yang tidak hanya diam semata. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bawasanya anak manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau potensi yang ada pada dirinya.

Manusia pada mulanya dilahirkan dengan membawa potensi yang perlu dikembangkan dalam dan oleh lingkungannya. Pandangan ini, "berbeda dengan teori tabularasa yang menganggap anak menerima "secara pasif" pengaruh lingkungannya, sedangkan konsep fitrah mengandung "potensi bawaan" aktif [innate patentials, innate tendencies] yang telah di berikan kepada setiap manusia oleh Allah.

Bahkan dalam al-Qur'an, sebenarnya sebelum manusia dilahirkan telah mengadakan "transaksi" atau "perjanjian" dengan Allah yaitu mengakui keesaan Tuhan, firman Allah surat al-A'raf: 172.

"Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka dan menyuruh agar mereka bersaksi atas diri sendiri; "Bukankah Aku Tuhanmu?" firman Allah. Mereka menjawab; "ya kami bersaksi" yang demikian agar kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak, "kami tidak mengetahui hal ini".

Apabila kita memperhatikan ayat ini, memberi gambaran bahwa setiap anak yang lahir telah membawa "potensi keimanan" terhadap Allah atau disebut dengan "tauhid". Sedangkan potensi bawaan yang lain misalnya potensi fisik dan intelegensi atau kecerdasan akal dengan segala kemungkinan dan keterbatasannya.

Di samping itu, hal yang juga penting implikasinya bagi pendidikan adalah tanggung jawab yang ada pada manusia bersifat pribadi, artinya tidaklah seseorang dapat memikul beban orang lain, beban itu dipikul sendiri tanpa melibatkan orang lain. (pada surat Faathir: 18).
Sifat lain yang ada pada manusia adalah manusia diberi oleh Allah kemampuan al-bayan (fasih perkataan-kesadaran nurani) yaitu daya untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang baik, (pada surat ar-Rahman: 3-4). Pada hadits Rasulullah, "barang siapa ingin mencapai kebahagian dunia harus ditempuh dengan ilmu dan barang siapa yang mencari kebahagian akhirat juga harus dengan ilmu, dan barang untuk mencari keduanya juga harus dengan ilmu".

Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa tugas dan fungsi pendidikan keluarga Islam adalah mengarahkan dengan sengaja segala potensi yang ada pada seseorang seoptimal mungkin sehingga ia berkembang menjadi seorang muslim yang baik. (Red/Luk)


No comments:

Post a Comment


Pages