Saat ini kita sedang mengalami krisis akhlak, meski
dengan beragam ilmu pengetahuan yang didapatkan manusia tidak membuatnya
menjadi rendah hati dan memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ajaran
rasulullah sebagaimana rasulullah adalah pribadi yang menjadi tauladan umatnya.
Sehingga perilaku koruptis, tidak bermoral hingga beragam kejahatan melingkupi
kehidupan manusia. Maka hal ini perlu menjadi perhatian yang serius, bawasanya
manusia tidak hanya diberikan ilmu pengetahuan namun juga pendidikan akhlak,
sehingga terjadi keseimbangan.
Pendidikan keluarga sebagai suatu pranata sosial, juga
sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan (eksistensi)
manusia. Oleh karena itu, keluarga Islam juga berupaya untuk menumbuhkan
pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah dan perbedaannya
adalah terletak pada kadar ketaqwaan masing-masing manusia, yang diberikan ilmu
pengetahuan dan pendidikan akhlak. Sehingga peran penting manusia untuk
memakmurkan bumi ini sesuai pandangan awal manusia diciptkan.
Pendidikan pada keluarga Islam tidak sekadar transfer
ilmu pengetahuan maupun transfer or training, akan tetapi merupakan suatu
sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan. Yakni suatu sistem
hubungan tiga dimensi antara manusia, alam dan Allah Swt, yang kesemuanya
terpaut dengan sang maha pencipta.
Jadi dalam pendidikan keluarga Islam merupakan suatu
kegiatan yang mengarahkan perkembangan seseorang sesuai dengan nilai-nilai
Islam. Maka pendidikan keluarga Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem
yang membawa manusia kearah kebahagiaan dunia dan akhirat melalui ilmu dan
akhlak. Oleh karena pendidikan keluarga Islam untuk membawa kearah kebahagiaan
dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah nilai-nilai Islam
tentang manusia yakni hakaikat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di
dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota
masyarakat.
Jadi dapat dikatakan bawasanya konsepsi pendidikan
keluarga Islam tidak hanya melihat keluarga sebagai upaya pencerdasan semata,
melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakikat
eksistensinya.
Tantangan untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman
pada diri manusia, karena manusia bukan hanya sekadar obyek yang diam. Tapi
obyek dan sekaligus subyek yang tidak hanya diam semata. Sebagaimana Rasulullah
mengatakan bawasanya anak manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau potensi
yang ada pada dirinya.
Manusia pada mulanya dilahirkan dengan membawa potensi
yang perlu dikembangkan dalam dan oleh lingkungannya. Pandangan ini,
"berbeda dengan teori tabularasa yang menganggap anak menerima
"secara pasif" pengaruh lingkungannya, sedangkan konsep fitrah
mengandung "potensi bawaan" aktif [innate patentials, innate
tendencies] yang telah di berikan kepada setiap manusia oleh Allah.
Bahkan dalam al-Qur'an, sebenarnya sebelum manusia
dilahirkan telah mengadakan "transaksi" atau "perjanjian"
dengan Allah yaitu mengakui keesaan Tuhan, firman Allah surat al-A'raf: 172.
"Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan Adam dari sulbi mereka dan menyuruh agar mereka bersaksi atas diri
sendiri; "Bukankah Aku Tuhanmu?" firman Allah. Mereka menjawab;
"ya kami bersaksi" yang demikian agar kamu tidak berkata pada hari
kiamat kelak, "kami tidak mengetahui hal ini".
Apabila kita memperhatikan ayat ini, memberi gambaran
bahwa setiap anak yang lahir telah membawa "potensi keimanan"
terhadap Allah atau disebut dengan "tauhid". Sedangkan potensi bawaan
yang lain misalnya potensi fisik dan intelegensi atau kecerdasan akal dengan
segala kemungkinan dan keterbatasannya.
Di samping itu, hal yang juga penting implikasinya
bagi pendidikan adalah tanggung jawab yang ada pada manusia bersifat pribadi,
artinya tidaklah seseorang dapat memikul beban orang lain, beban itu dipikul
sendiri tanpa melibatkan orang lain. (pada surat Faathir: 18).
Sifat lain yang ada pada manusia adalah manusia diberi
oleh Allah kemampuan al-bayan (fasih perkataan-kesadaran nurani) yaitu daya
untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui kemampuan berkomunikasi
dengan bahasa yang baik, (pada surat ar-Rahman: 3-4). Pada hadits Rasulullah,
"barang siapa ingin mencapai kebahagian dunia harus ditempuh dengan ilmu
dan barang siapa yang mencari kebahagian akhirat juga harus dengan ilmu, dan
barang untuk mencari keduanya juga harus dengan ilmu".
Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa tugas dan
fungsi pendidikan keluarga Islam adalah mengarahkan dengan sengaja segala
potensi yang ada pada seseorang seoptimal mungkin sehingga ia berkembang
menjadi seorang muslim yang baik. (Red/Luk)

No comments:
Post a Comment