SEWINDU Gus Dur atau bisa dikatakan bulan Desember adalah bulannya Gus Dur, tokoh Nahdlatul Ulama yang memiliki nama asli KH. Abdurrahman Wahid. Tokoh yang populer dengan ucapan "Gitu aja kok repot" dan seorang Gus yang pernah menjadi Presiden. Dikatakan bulannya Gus Dur karena beberapa komunitas, ormas, maupun lembaga selalu memeringati haul Gus Dur. Baik di Ciganjur tempat tinggal keluarga besar Gus Dur dan tidak ketinggalan di kota Semarang, salah satunya GP Ansor Kota Semarang memeringati Haul Gus Dur dengan mengusung tema Memeluk Pancasila, bertempat di Balai Kota Semarang, Jumat (22/12/2017)
Gus, Tanpamu Sekarang Kami Repot, sebuah tulisan yang tertempel pada dinding acara haul tersebut sebagai pertanda akan kekhasan dan keunikan dari ucapan Gus Dur. Begitupun juga menjadi perlambang bawasanya saat ini kita sedang mengalami kerepotan atas carut marutnya kondisi kebangsaan baik pertentangan antar etnis maupun korupsi yang terus saja merajalela.
Beragam kenangan testimoni dari kalangan Ansor, NU, Muhammadiyah, dan Etnis Tionghoa mengalun lembat di mimbar haul, tawa dan sedih menyelimutinya.
Harjanto Halim tokoh Tionghoa Semarang mengatakan Gus Dur adalah sosok panutan. Sehingga dikalangan kami memberikan beliau gelar yakni Bapak Tionghoa Indonesia.
Haul Gus Dur di Semarang sangat unik, salah satunya hiburan yang dimeriahkan penampilan Grup Asthabil Art Semarang. Sebuah penampilan sastra pertunjukan oleh dua lakon yakni Lukni Maulana dan Agung Wibowo yang dikenal dengan puisi Patidusa.
Penampilan Asthabil Art Semarang membuat banyak penonton tertegun dan tertawa, padahal pembacaan puisi identik dengan keseriusan. Namun tidak bagi Asthabil Art, mereka menggemas puisi melalui teatericalisasi puisi yakni sastra pertunjukan. Kemasan tampilan puisi tersebut memeragakan kondisi bangsa yang memang "repot."
Penonton tertawa ketika pembaca puisi oleh Agung Wibowo melalui gerak puitikanya memakaikan pampers atau pembalut bayi tersebut kepada lawan mainnya. Pemakian pembalut tersebut tidak wajar, yang mana biasanya dipakaikan untuk popok bayi supaya tidak ngompol, ini malahan dipakai sebagai penutup kepala.
Teaterikalisasi puisi tersebut ditutup dengan penaburan kertas dan bedak sebagai simbol melangitkan doa untuk Gus Dur bawasanya saat ini memang kita benar-benar kerepotan. (Red)
Gus, Tanpamu Sekarang Kami Repot, sebuah tulisan yang tertempel pada dinding acara haul tersebut sebagai pertanda akan kekhasan dan keunikan dari ucapan Gus Dur. Begitupun juga menjadi perlambang bawasanya saat ini kita sedang mengalami kerepotan atas carut marutnya kondisi kebangsaan baik pertentangan antar etnis maupun korupsi yang terus saja merajalela.
Beragam kenangan testimoni dari kalangan Ansor, NU, Muhammadiyah, dan Etnis Tionghoa mengalun lembat di mimbar haul, tawa dan sedih menyelimutinya.
Harjanto Halim tokoh Tionghoa Semarang mengatakan Gus Dur adalah sosok panutan. Sehingga dikalangan kami memberikan beliau gelar yakni Bapak Tionghoa Indonesia.
Haul Gus Dur di Semarang sangat unik, salah satunya hiburan yang dimeriahkan penampilan Grup Asthabil Art Semarang. Sebuah penampilan sastra pertunjukan oleh dua lakon yakni Lukni Maulana dan Agung Wibowo yang dikenal dengan puisi Patidusa.
Penampilan Asthabil Art Semarang membuat banyak penonton tertegun dan tertawa, padahal pembacaan puisi identik dengan keseriusan. Namun tidak bagi Asthabil Art, mereka menggemas puisi melalui teatericalisasi puisi yakni sastra pertunjukan. Kemasan tampilan puisi tersebut memeragakan kondisi bangsa yang memang "repot."
Penonton tertawa ketika pembaca puisi oleh Agung Wibowo melalui gerak puitikanya memakaikan pampers atau pembalut bayi tersebut kepada lawan mainnya. Pemakian pembalut tersebut tidak wajar, yang mana biasanya dipakaikan untuk popok bayi supaya tidak ngompol, ini malahan dipakai sebagai penutup kepala.
Teaterikalisasi puisi tersebut ditutup dengan penaburan kertas dan bedak sebagai simbol melangitkan doa untuk Gus Dur bawasanya saat ini memang kita benar-benar kerepotan. (Red)

No comments:
Post a Comment