PCNU Banyuwangi Gelar Nobar Film Gerakan Pemberontakan Berkedok Agama - Majalah Hany

Majalah Hany

Media Pendidikan dan Keluarga

PCNU Banyuwangi Gelar Nobar Film Gerakan Pemberontakan Berkedok Agama

Share This

Perbuatan melawan Negara atau pemberontakan tidak hanya dilakukan oleh PKI. Tapi, juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lain. Mulai dari PRRI/ Permesta yang mengangkat isu kedaerahan hingga pemberontakan yang berkedok agama seperti yang dilakukan oleh DI/ TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia).

Tentu saja, baik meningkatkan respon terhadap bangkitnya faham komunisme di Republik tercinta ini. Namun, kita juga perlu meningkatkan alarm kesadaran kita pada kebangkitan Neo-DI/TII. Mereka sama-sama mengancam kedaulatan Pancasila di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Bahkan, melawan gerakan separatis berselimut agama (Islam), itu lebih merepotkan.Propagandanya yang menggunakan doktrinasi agama, menerbitkan kebingungan di masyarakat dan kegamangan di depan penguasa. Jika dibasmi muncul stigma sebagai anti-Islam, jika tak dibasmi ini adalah perbuatan makar.

Indikasi kebangkitan Neo-DI/ TII sebenarnya lebih kentara dibandingkan dengan Komunis Gaya Baru (KGB) yang indikatornya cenderung abstrak tersebut. Beberapa tahun silam, misalnya, BNPT dan Densus 88 sempat berhadapan dengan sejumlah teroris yang berbaiat pada NII (Negara Islam Indonesia). Yang mana secara historis, NII adalah metamorfosa dari DI/ TII.

Ciri lain dari kebangkitan Neo-DI/ TII adalah mulai maraknya upaya sebagian pihak mengkafirkan pemerintahan yang sah. Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi ini, bukankah cukup kencang mengatakan presiden anti Islam? Lebih-lebih terbitnya Perppu Ormas, semakin membuat mereka blingsatan menstigma presiden musuh Islam. Entah Islam yang mana?

Belum lagi adanya propaganda thogut yang selama masa reformasi ini nyaring didengungkan dihadapan publik. Dahulu, saat Kartosuwiryo memimpin DI/ TII juga melakukan demikian. Ia mencap Presiden Soekarno sebagai pemimpin kafir, tidak sah menjadi orang nomor satu di Indonesia. Hal ini berhasil menghasut sebagian rakyat untuk melakukan makar di tengah kondisi bangsa yang sedang menghadapi Agresi Sekutu.

Propaganda makar DI/ TII tersebut, dilawan oleh Nahdlatul Ulama. Cap kafir kepada Bung Karno ditangkis dengan penyematan gelar Waliyul Amri Dlaruri bi Syaukah. Ijtihad para ulama pesantren tersebut, ternyata tepat untuk memulihkan kepercayaan masyarakat muslim kepada presiden. Pemberontakan DI/ TII pun bisa di atasi oleh tentara bersama rakyat.

Oleh karena itu, sebagaimana saran dari Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj, jangan hanya memutar film G30S/ PKI, tapi juga dilengkapi dengan memutar film-film yang mengungkapkan pemberontakan-pemberontakan lainnya seperti yang dilakukan oleh DI/ TII. Atas itulah, Sekretariat Kantor PCNU Banyuwangi, pada Hari Kesaktian Pancasila ini, Ahad 1 Oktober 2017 menggelar nonton bareng film "Mereka Kembali". Sebuah film klasik yang menggambarkan kekejaman DI/ TII memberontak pada bangsa ini.

Acara akan dimulai pukul 19.00 WIB di Aula PCNU Banyuwangi. Acara terbuka untuk umum. Gratis plus secangkir kopi, setumpuk kacang rebus dan setangkup ilmu. Acara ini juga diawali dengan diskusi terlebih dahulu. Sebagai pengantar untuk melihat film tersebut, dalam kaca mata lebih komprehensif.

Lengkapi tontonan Anda. Mari bergabung.

No comments:

Post a Comment


Pages